11/28/2015

SATUAN KARYA PRAMUKA BHAYANGKARA

SATUAN KARYA PRAMUKA BHAYANGKARA

Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara adalah wadah kegiatan kebhayangkaraan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), guna menumbuhkan kesadaran berperan serta dalam pembangunan nasional.
Tujuan dibentuknya Saka Bhayangkara adalah untuk mewujudkan kader-kader Bangsa yang ikut serta bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat melalui pendidikan kebhayangkaraan di dalam Gerakan Pramuka.
Kegiatan kesakaan dilaksanakan di Gugus Depan dan Satuan Karya Pramuka disesuaikan dengan usia dan kemampuan jasmani dan rohani peserta didik. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan sedapat-dapatnya dengan praktek berupa kegiatan nyata yang memberi kesempatan peserta didik untuk menerapkan sendiri pengetahuan dan kecakapannya dengan menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan keperluannya.

Anggota Saka Bhayangkara terdiri atas :
1.    Peserta didik
1)    ) Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega
2)    Pramuka Penggalang yang berminat di bidang Kebhayangkaraan dan memenuhi syarat tertentu.
2.    Anggota dewasa
1)    Pembina Pramuka sebagai Pamong Saka
2)    Instruktur Saka Bhayangkara
3)    Pimpinan Saka Bhayangkara
3.    Pemuda yang berusia 14-25 tahun bukan anggota Gerakan Pramuka dapat menjadi calon Saka Bhayangkara, dengan ketentuan satu bulan setelah terdaftar sebagai calon anggota Saka Bhayangkara, telah menjadi anggota salah satu Gugusdepan terdekat.

KRIDA SAKA BHAYANGKARA

Krida adalah satuan terkecil dari Satuan Karya (SAKA). Tiap Krida berjumlah 5-10 anggota yang dipimpin oleh Ketua Krida. Anggota Krida melaksanakan kegiatan sesuai dengan nama krida/ spesifikasi yang dipilihnya.

Saka Bhayangkara meliputi 4 (empat) krida, yaitu :

1. Krida Ketertiban Masyarakat
Krida Ketertiban Masyarakat, terdiri atas 4 SKK
a.SKK Pengamanan Lingkungan Pemukiman
b.SKK Pengamanan Lingkungan Kerja
c.SKK Pengamanan Lingkungan Sekolah
d.SKK Pengamanan Hukum

2. Krida Lalu Lintas
Krida Lalu Lintas, terdiri atas 3 SKK :
a.SKK Pengetahuan Perundang-undangan/Peraturan Lalu Lintas
b.SKK Pengaturan Lalu Lintas
c.SKK Penanganan Kecelakaan Lalu Lintas

3. Krida Pencegahan dan Penaggulangan Bencana ( PPB )
Krida Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, mempunyai 5 SKK :
a.SKK Pencegahan Kebakaran
b.SKK Pemadam Kebakaran
c.SKK Rehabilitasi Korban Kebakaran
d.SKK Pengenalan Kerawanan Kebakaran
e.SKK Pencurian
f.SKK Penyelamatan
g.SKK Pengenalan Satwa

pada krida PPB terdapat 4 sub krida :
1.    Subkrida PASKUD (Pasukan Berkuda)
2.    Subkrida PASKAN (Pasukan Anjing Pelacak)
3.    Subkrida DAMKAR (Pemadam Kebakaran)
4.    Subkrida SAR (Search And Rescue)
Pada saat ini Krida saka bhayangkara yang memiliki sub krida PASKUD hanya di wilayah Jakarta Timur, Tepatnya Ranting PAsar Rebo, Ciracas, dan Cipayung. terlahir beberapa aswasada didalamnya, diantaranya : Riyan Pauzan(Ciracas), Hendra Budiman(Pasar Rebo), dan Junaedi (Cipayung).

4. Krida Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPTKP)
Krida Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPKP), mempunyai 5 SKK :
a.SKK Pengenalan Sidik Jari
b.SKK Tulisan Tangan dan Tanda Tangan
c.SKK Narkotika dan Obat-Obatan
d.SKK Uang Palsu
e.SKK Pengamanan Tempat Kejadian Perkara

Hasil yang diharapkan dibentuknya Saka Bhayangkara adalah agar para anggota Gerakan Pramuka :

1.    Memiliki pengetahuan, kemampuan, kecakapan, dan keterampilan serta pengalaman dalam bidang kebhayangkaraan.
2.    Memiliki sikap hidup yang tertib dan disiplin serta ketaatan terhadap peraturan hukum dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat
3.    Memiliki sikap, kebiasaan dan perilaku yang tangguh sehingga mampu mencegah, menangkal serta menanggulangi timbulnya setiap kejadian kamtibmas.
4.    Memiliki kepekaan dan kewaspadaan serta daya tanggap dan penyesuaian terhadap setiap perubahan dan dinamika social di lingkungannya.
5.    Mampu memberikan latihan tentang pengetahuan kamtibmas kepada para anggota Gerakan Pramuka di Gugusdepannya.
6.    Mampu menyelenggarakan pengamanan lingkungan serta secara swakarsa, swadaya dan swasembada, serta secara nyata yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakat lingkungannya.
7.    Mampu melakukan tindakan pertama terhadap kasus kejahatan tertangkap tangan yang terjadi di lingkungannya untuk kemudian segera menyerahkan kepada Polri.
8.    Mampu membantu Polri dalam pengamanan TKP dan melaporkan kejadian tersebut serta bersedia menjadi saksi.

STRUKTUR ORGANISASI PRASBHARA

* pamong saka       
anggota saka atau anggota dewasa saka gerakan pramuka bertanggung jawab atas pembinaan dan pengembangan saka.

* instruktur saka       
anggota gerakan pramuka atau bukan anggota saka karena kemampuanya untuk membantu pamong saka.

* dewan saka   
badan yang dibentuk oleh anggota saka yang beranggotakan pramuka penegak dan pandega yang bertugas memimpin pelaksanaan kegiatan saka.
* pimpinan saka   

badan perlengkapan kwartir yang bertugas memberikan bimbingan organisasi teknis pada saka yang bersangkutan serta memberikan fasilitas dan kemudahan lainnya.
krida-krida
MATERI KRIDA
PENGENALAN TEMPAT KEJADIAN PERKARA
         

Krida pengenakan tempat kejadian perkara
P T K P :     adalah suatu singkatan dari Pengenalan Tempat Kejadian Perkara.
P T K P :     yaitu tindakan yang pertama kali dilakukan apabila kita mendatangi/menemukan suatu tempat kejadian atau tindak pidana yang terjadi sebelum TKP tersebut rusak oleh alam ataupun manusia guna mempermudah penyelidikan dan terungkapnya kasus atau peristiwa yang terjadi.

Cara yang pertama kali diambil apabila kita menemukan suatu kejadian atau tindak pidana yaitu :

1.    Mengamankan barang bukti yang ada di tempat kejadian perkara (TPK), dalam hal kita mengamankan barang bukti kita harus memperhatikan beberapa hal antara lain :
a.   Mengetahui letak barang bukti tersebut.
b.   Hindari menyentuh barang bukti tersebut secara langsung (usahakan menggunakan alas tangan).

2.    Menghimpun data yang ada dari para saksi yang melihat kejadian ataupun tindak pidana yang terjadi.

3.    Mengamankan tersangka, apabila tersangka tersebut masih berada di TPK guna ditindak lanjuti sesuai prosedur hukum yang berlaku.


4.    Menolong korban dari suatu kejadian atau tindak pidana.

5.    Menghubungi Rumah Sakit terdekat.

6.    Melapor kepada pihak yang berwenang dalam hal ini pihak Kepolisian.

Ada dua cara mendapatkan informasi dalam hal suatu tindak pidana yang terjadi, apabila kita menemukan ataupun mengetahui baik secara langsung maupun tidak langsung :

1.   Secara terbuka
-        wawancara (Menanyakan pada masyarakat sekitar TPK)
-        mas media (elektronik/media cetak)

2.   Secara Tertutup
-      Secara tertutup biasanya digunakan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini kepolisian.


Krida pencegahan penanggulangan Bencana


MATERI KRIDA
PENCEGAHAN DAN PENAGGULANGAN BENCANA
A.  Kepanjangan P2B adalah :   Pencegahan dan penanggulangan bencana.
B.  Pengertian P2B adalah   :  Tindakan yang pertama kali kita lakukan guna membantu dalam mengevakuasi korban bencana alam maupun kebakaran
C.  Alat-alat yang digunakan untuk Pemadam Kebakaran adalah sebagai berikut :
1.    Alat-alat / bahan tradisional antara lain :
-  Karung yang dibasahkan
-  Daun yang masih hijau
-  Pasir
-  Tanah
-  Air.
2.   Alat-alat Modern antara lain :
-  Mobil pemadam kebakaran
-  Tabung gas
-  Skop dan pacul.

D.  Adapun cara memadamkan kebakaran besar yaitu :
Posisi arah angin bertiup maksudnya agar supaya sewaktu memadamkan api, kita terhindar dari segala sesuatu yang tak terduga.



E.  Adapun cara memadamkan kebakaran kecil yaitu :
Apabila kita memakai alat  modern atau alat tradisional kita padamkan langsung pada sumber api.

F.  SAR adalah temu dan selamatkan, artinya menemukan korban terlebih dahulu kemudian diselamatkan.

G.  Sar terbagi menjadi dua yaitu :
1.    Sar laut, kegiatannya mencakup yang ada dilaut saja
Cara-cara untuk menolong korban dilaut :
a.    Kita tolong korban tersebut apabila sikorban masih hidup dan agar mudah membawanya kedaratan maka korban tersebut kita pingsankan untuk sementara
b.    Sikorban dibawah ke daratan
c.    Setelah sampai didarat kita periksa denyut nadi sikorban
d.    Lalu memberi bantuan pernafasn
e.    Mengeluarkan air di dalam perut si korban
f.   Peralatan-peralatan sar laut :
1.    Pelampung
2.    Pesawat HT
3.    Makanan tambahan

2.    Sar darat, kegiatannya mencakup yang didarat saja antara lain :
a.   Meluncur dari tebing
b.   Memanjat tebing
c.    Merayap diatas tambang

d.    Peralatan-peralatan sar darat :
1.    Tali panjang (Wiming)
2.    Tali jiwa
3.    Seneplin atau karabiner
4.    Vigur EH
5.    Palu-palu (hameer)
6.    Paku pet

3.   Dua syarat menolong korban :
a.    Pintar berenang
b.    Tenaga cukup

4.   Cara memberi bantuan pernafasan :
a.   Ditidurkan terlebih dahulu
b.   Periksa urat nadi
c.   Kedua tangan dipompa (3x)
d.   Tangan ditolak kedepan (3x)
e.   Ditekan jantung sebanyak (3x)
f.    Kepala ditongka keatas
g.   Hidung ditutup
h.  Masukkan udara melalui mulut, kalau tidak bereaksi diulang lagi
i.    Lalu dibawah kerumah sakit, untuk ditangani lebih lanjut (ahli)



Krida ketertiban masyarakat

MATERI KRIDA
KETERTIBAN MASYARAKAT

Adalah : POLA-POLA KEGIATAN DAN JENIS-JENIS KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT DALAM MENGAMANKAN LINGKUNGAN KEHIDUPANNYA MASING-MASING.

A.    POLA DAN JENIS KEGIATAN YANG DILAKUKAN
1.   PENYULUHAN MENGENAI KESADARAN DAN PENTINGNYA KAMTIBMAS.
2.   RONDA BERGILIR


B.    BENTUK-BENTUK GANGGUAN KAMTIBMAS

1.   TINDAK PIDANA
2.   BENCANA ALAM, WABAH PENYAKIT DAN LAIN-LAIN
3.   GANGGUAN-GANGGUAN LAIN YANG MENIMBULKAN KEKACAUAN, KEPANIKAN MASYARAKAT DARI KEHANCURAN SARANA DAN PRASARANA.


C.    SEBAB-SEBAB TERJADINYA GANGGUAN KAMTIBMAS
1.   AKIBAT PERBUATAN MANUSIA
2.   AKIBAT ALAMIAH



D.    YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PELAKSANAAN SISKAMLING
1.   BAN PAMLING
2.   PENTUNGAN
3.   KENTONGAN
4.   JAS HUJAN
5.   JAM DINDING
6.   PAYUNG
7.   SENTER


E.    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA GANGGUAN KAMTIBMAS YAITU :
1.   FAKTOR GEOGRAFIS
2.   FAKTOR KEPENDUDUKAN
3.   FAKTOR KEKAYAAN ALAM
4.   FAKTOR IDIOLOGI
5.   FAKTOR POLITIK
6.   FAKTOR EKONOMI
7.   FAKTOR SOSIAL BUDAYA
8.   FAKTOR AGAMA
9.   FAKTOR HANKAM.







F.    SUMBER-SUMBER GANGGUAN KAMTIBMAS

1.   SUMBER LUAR NEGERI
a.   NEGARA ASING
b.   WARGA NEGARA ASING
c.   BADAN-BADAN ATAU ORGANISASI LUAR NEGERI
d.   WARGA NEGARA INDONESIA YANG DILUAR NEGERI

2.   SUMBER DALAM NEGERI
a.   WARGA NEGARA INDONESIA SENDIRI
b.   BADAN-BADAN ORGANISASI
c.   WARGA NEGARA INDONESIA KETURUNAN ASING
d.   WARGA NEGARA ASING

3.   PROSES ALAM
a.    KEADAAN CUACA
b.    PENGGESERAN ATAU MEKANISME LAPISAN BUMI
G.    BENTUK-BENTUK GANGGUAN KAMTIBMAS
1.   TINDAK PIDANA YAITU : PEMBUATAN YANG MELANGGAR ATAU MELAWAN HUKUM PIDANA YANG BERLAKU, BAIK YANG TERDAPAT DALAM KUHP MAUPUN PERUNDANG-UNGANGAN.
2.   PENYIMPANGAN SOSIAL YAITU : P-ERBUATAN YANG MELANGGAR/BERTENTANGAN DENGAN ATURAN-ATURAN, NORMA-NORMA ATAU ADAT ISTIADAT MASYARAKAT SETEMPAT.


3.   BENCANA ALAM, WABAH PENYAKIT, TERNAK DAN HAMA TANAMAN YAITU : SATU BENCANA YANG MENYEBABKAN PENDERITAAN MASYARAKAT SETEMPAT.
4.   GANGGUAN-GANGGUAN LAIN YANG MENIMBULKAN KEKACAUAN, KEPANIKAN, KESENGSARAAN MASYARAKAT DAN KEHANCURAN SARANA DAN PRASARANA DIMASYARAKAT, PEMERINTAH DAN LEMBAGA-LEMBAGA NON PEMERINTAH.
5.   GANGGUAN TERHADAP KEAMANAN DAN KEHANCURAN LALU-LINTAS.


H.    SEBAB-SEBAB TERJADINYA GANGGUAN KAMTIBMAS
1.   AKIBAT PERBUATAN MANUSIA
2.   AKIBAT ALAMIAH


I       PEMBINAAN KEAMANAN SWAKARSA ADALAH KEGIATAN DALAM PENYELENGGARAAN PEMBINAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN FUNGSI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DALAM RANGKA PEMBINAAN KEAMANAN SWAKARSA DENGAN JENIS SEBAGAI BERIKUT :
1.   PEMBINAAN RAKYAT TERLATIH
2.   PEMBINAAN SATPAM
3.   PEMBINAAN KEAMANAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN, KAWASAN, PROYEK/SEKOLAH DAN TEMPAT-TEMPAT UMUM.







Krida lalu lintas

MATERI KRIDA
LALU LINTAS
A.    PENGERTIAN LALU LINTAS
Lalu lintas adalah : GERAK PINDAH MANUSIA DAN ATAU BARANG DENGAN ATAU TANPA ALAT PENGGERAK DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN DENGAN MELALUI JALAN UMUM.


B.    UNSUR-UNSUR LALU LINTAS
1.   MANUSIA SEBAGAI PEMAKAI JALAN.
2.   JALAN SEBAGAI TEMPAT BERPIJAK
3.   ALAT GERAK BAIK BERMOTOR MAUPUN TIDAK
4.   LINGKUNGAN YANG TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DENGAN ALAM.


C.    BENTUK-BENTUK PENEGAKAN HUKUM LALU LINTAS
1.   PENGATURAN LALU LINTAS
2.   PENJAGAAN LALU LINTAS
3.   PENGAWALAN LALU LINTAS
4.   PATROLI LALU LINTAS
5.   PENINDAKAN PELANGGARAN LALU LINTAS





D.    PENEGAKAN HUKUM LALU LINTAS
Pengertianya adalah : SEGALA KEGIATAN DAN TINDAKAN DARI POLISI DIBIDANG LALU LINTAS, AGAR UU ATAU KETENTUAN KETENTUAN PERUNDANG UNDANGAN LALU LINTAS LAINNYA DIPATUHI OLEH SETIAP PEMAKAI JALAN DALAM USAHA MENCIPTAKAN KAMTIBCAR LANTAS.


E.    FAKTOR YANG MENYEBABKAN KECELAKAAN LALU LINTAS ADALAH :
1.    FAKTOR MANUSIA
2.    FAKTOR KENDARAAN
3.    FAKTOR JALAN DAN
4.    FAKTOR FAKTOR YANG LAIN (FAKTOR DARI ALAM)


F.    BENTUK PENINDAKAN PELANGGARAN LALU LINTAS :
1.   MEMBERI PERINGATAN SECARA LISAN

2.   TINDAKAN HUKUM SECARA TERTULIS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar